Saturday, May 22, 2010

Perkembangan Konsep dan Teori Sel


 a. Penemuan teori sel
Penemuan tentang sel memberi konsekuensi logik usaha konseptualisasinya, dan mencapai puncaknya pada saat lahirnya teori sel yang dirumuskan secara terpisah oleh dua orang pada waktu yang berbeda.     
            Pada tahun 1833, beberapa tahun sebelum penemuan protoplasma oleh Purkinje, Robert Brown mempublikasikan sebuah makalah yang mendeskripsikan struktur mikroskopik dari organ reproduktif dari tanaman. Dalam makalah ini Brown menggambarkan fokus perhatiannya pada nucleus sebagai inti sel tanaman dalam pembelajaran ini. Inti sel merupakan suatu unit jaringan suatu tanaman. Brown mempelajari dasar dari konsep sel sebagai fondasi unit organisme hidup yang dikenal dengan teori sel. Yang pertama dari tiga hipotesis teori sel dikembangkan oleh Theodor Schwan dan Matthias Jacob Schleiden. Yang menyatakan bahwa semua makhluk hidup tersusun atas satu atau lebih inti sel, dan bahwa sel merupakan unit fungsional makhluk hidup. 
Pada tahun 1838, Matthias Jacob Schleiden mengemukakan hasil dari penelitian di dalam tumbuhan. Schleiden menarik kesimpulan, tanpa memperhatikan dari suatu jaringan yang tampak, tumbuhan berasal dari sel dan embrio tanaman yang dibangun dari individu sel. Pada tahun 1839, kolaborasi antara Theodor Schwan yang mempublikasikan laporan tentang dasar kehidupan sel pada binatang. Schwan juga mengusulkan bahwa semua jaringan, apakah dia otot ataupun saraf, elastik atau kaku, semuanya tersusun atas sel. Schwan lebih jauh menyimpulkan bahwa sel tumbuhan dan binatang secara keseluruhan dianalogikan dengan struktur dan bahwasanya sel merupakan unit fungsional makhluk hidup. Schwan menyatakan bahwa tiap-tiap sel secara individual kesatuan yang independen, yang juga dioperasikan secara bersamaan oleh sel-sel lain. Schleiden dan Schwan memberikan gagasan tentang keaslian sel untuk membktikan penemuan yang paling akhir., keduanya setuju menyatakan bahwa sel dapat dibangun dari material bukan sel. Dua ilmuwan ini menjadi ilmuwan dunia, yang diambil dari sejumlah ilmuan beberapa tahun sebelum observasi oleh para ilmuwan diterima sebagai fakta bahwa sel tidak dibangun dari organisme yang disebut teori generasi spontaneus.
Pada tahun 1855, Rudolf Virchow yang menyatakan sebuah konsep omniscellula e cellula yang melengkapi teori sel sebagai berikut :
1.      Semua makhluk hidup tersusun atas inti sel
2.      Sel adalah unit fungsional makhluk hidup
3.      Semua sel tersusun atas organel-organel sel
a.       Konsep Protoplasma
Tahun 1829 oleh Hertwig diajukan teori protoplasma, sel adalah kumpulan substansi hidup yang disebut protoplasma dengan di dalamnya mengandung inti yang disebut nukleus dan diluarnya dibatasi oleh dinding sel. Ada beberapa organisme yang struktur selnya tidak jelas, tetapi terdiri atas protoplasma. Berdasarkan jumlah sel yang menyusunnya, tubuh makhluk hidup ada yang tersusun atas satu sel (uniseluler) dan banyak sel (multiseluler). Pada sel tumbuhan, di sebelah luar membran sel terdapat dinding sel yang relatif tebal. Protoplasma yang terdapat di luar inti dinamakan sitoplasma, dan protoplasma yang terdapat didalam inti dinamakan karioplasma.
b.      Konsep Fertilisasi
C. Cara Analisis Seluler Terhadap Gejala Genetika
Pada tahun 1883 Weissman mengemukakan teorinya bahwa pemindahan faktor-faktor herediter dari generasi ke generasi berikutnya berlangsung melalui system kontinuitas yang dinamakan germ plasma yang letaknya pada elemen-elemen seksual ialah spermatozoa dan ovum sehingga tidak terletak pada sel somatic.
Kelahiran teori ini mendorong beberapa ahli untuk mengamati langsung pada sel-sel gamet, misalnya Van Beneden, Flemming, Strasburger, Boveri. Berdasarkan hasil pengamatannya mereka mendukung teori Weissman. Weissman mengarahkan pada plasma selnya sedangkan H. FOL melakukan pengamatan pada sel hewan dan Strasburger melakukan pengamatan terhadap sel tumbuhan. Perhatian terhadap analisis ini diarahkan pada inti sel. Berdasarkan hasil penelitian di dalam inti sel terdapat sifat dasar hereditas dimana di dalam inti tersebut terdapat kromosom yang mengandung gen dan DNA sehingga DNA merupakan materi genetic esensial. Penelitian ini dikemukakan oleh beberapa ahli diantaranya Robert Feulgen, Andre Boivin, Roger dan Colette Vendrely, Alfred E. Mirsky dan Hans Ris. Bukti-bukti kebenaran dari konsep ini semakin diperkuat oleh hasil penemuan para ahli pada objek-objek pneumococcus, Escherichia coli dan virus. Sehingga persoalan biologi sel lebih jauh ditelusuri sampai pada tingkatan struktur dasar fungsional dari komponen sel ialah pada tingkatan molekuler. Oleh karena itu lahirlah biologi molekuler sebagai pendekatan untuk menerangkan mekanisme hayati persoalan-persoalan biologi. Pengembangan biologi molekuler maknanya lebih fungsional sebagai pendekatan untuk menerangkan mekanisme hayati bila dihubungkan dengan kesatuan struktur fungsionalnya yaitu sel. Struktur molekuler yang fungsional mendukung kesatuan fungsi sel dalam menjalankan aktifitas kehidupan dalam penelaahan ini termasuk struktur dasar fungsional.
Semakin majunya teknik serta instrument untuk penelitian molekuler dalam sel, mekanisme hayati dari berbagai persoalan biologi semakin dapat diterangkan secara empiric,s ehingga berkat kemajuan biologi molekuler, pendekatan teleologik dalam menerangkan gejala biologi semakin terdesak.


2 comments:

  1. Haiiii.......
    makasih infonya y...
    berkat info yg kamu tulis, tugas aku selesaiii.... :) semua tugas yg disuruh cari ama guru aku ada semua di sini...
    thank's a lot... :)

    ReplyDelete